Pameran Keraton Yogyakarta

Perjalanan pemerintahan sultan sejak dinobatkan pada tahun 1989 mewarnai perubahan peradaban di Yogyakarta. Dinamika sosial kultural ini nampaknya terjadi pula pada pemerintahan Sultan-Sultan sebelumnya. Keadaan ini terekam dalam pelbagai dokumen sejarah, sastra, dan babad. Salah satu rekam sejarah yang dapat diamati adalah perubahan busana.

Wastra dan busana merupakan ekspresi dari kebudayaan. Membaca busana sama halnya menelusuri jejak diakronis dari sebuah peradaban. Di Keraton Yogyakarta, wastra dan busana menjadi ekspresi dari politik identitas dari para bangsawan. Setiap sultan yang bertakhta pun turut memberi warna dalam perubahan politik berbusana. Busana jendralan dan lencana bintang komandur hingga adaptasi bludru serta ornamen hias bulu pada busana menjadi potret sederhana dari perkembangan busana di Keraton Yogyakarta. Ruang perubahan lebih besar lagi terjadi pada perubahan pola berkampuh dan sikepan menjadi busana takwa.

Perkembangan motif di Yogyakarta justru tidak bersumber dari keraton. Setiap bangsawan membentuk pola kainnya sesuai dengan strata sosialnya guna membangun identitas. Fenomena ini lantas melahirkan pelbagai pola batik, yang justru banyak lahir dari Dalem-dalem Pangeran. Tidak hanya keraton, tetapi para pangeran yang mardika pada wilayang kekuasaannya turut memberi warna pada peradaban busana di Yogyakarta. Bahkan, sifat busana yang begitu personal bagi pemakainya sehingga sukar untuk diwariskan. Dengan demikian, melalui busana makan cermin peradaban dari suatu pemerintahan dalam dikisahkan.

Narasi inilah yang menjadi motor dalam kegiatan pameran Mangayubagya Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan mengusung tema besar ‘Busana dan Peradaban di Keraton Yogyakarta’, serupa dengan tema simposium yag digelar.

 

  1. Resepsi Pembukaan Pameran

Berdasarkan perhitungan Tahun Masehi, Sri Sultan Hamengku Buwono X genap bertakhta selama 31 tahun. Pada resepsi pembukaan pameran ini, akan disajikan gelaran Wayang Wong Golek Menak Lakon “Jayengrana Jumeneng Nata” persembahan KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta. Naskah pertunjukan pementasan ini berasal dari British Library dan telah diberikan kepada keraton tahun lalu. Pertunjukan akan dilaksanakan pada Sabtu, 7 Maret 2020, di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran. Pameran ini sendiri akan berlangsung selama satu bulan hingga Minggu (5/4).

 

  1. Diskusi Ilmiah Rangkaian Pameran

Diskusi ilmiah tematik menjadi salah satu ciri dari setiap penyelenggaraan pameran di Keraton Yogyakarta. Melalui diskusi ilmiah, pengunjung tidak terbatas memperolah ilmu dari keterangan koleksi pada label, tetapi mendapat wacana yang lebih luas terkait dengan wastra dan busana. Di samping itu, terdapat kegiatan loka karya berbusana adat sebagai ruang praktis bagi para pengunjung untuk belajar berbusana adat. Berbagai materi busana adat akan diberikan sesuai dengan agenda yang telah tersusun.

Agenda diskusi ilmiah tematik dan lokakarya busana adat dilaksanakan setiap akhir pekan, pada hari Sabtu dan Minggu di antaranya:

  • Tanggal 14 dan 15 Maret 2020
  • Tanggal 21 dan 22 Maret 2020
  • Tanggal 28 dan 29 Maret 2020

 

  1. Pertunjukan Seni

Guna menyemarakkan Tingalan Jumenengan Dalem yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan, akan dipentaskan beberapa karya tari adiluhung dari Keraton Yogyakarta, diantaranya

Wayang Wong Purwo pada penutupan pameran, Sabtu (4/4) malam di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran